Karena saya lebih takut mati daripada takut hidup. That's why. Enjoy your life. Live your life to the fullest. Try everything. Regret nothing.
Tuesday, February 03, 2015
To My Future Wife
Monday, February 02, 2015
Heart
Tapi aku yakin takkan pernah mampu terucap lewat kata.
Ijinkan kutuliskan lewat selembar surat.
Sunday, February 01, 2015
Kita (Aku dan Kamu)
Dimana kamu saat hujan turun tadi siang?
Ketika tetes - tetes air mengalir dari langit dan membasahi setiap manusia yang tak memiliki tempat berlindung.
Hari ini kita buka dengan mendung menutup langit, abu kelabu warnanya dan sendu rasanya.
Aku mencoba mengingat hal terakhir yang kita rencanakan bersama.
Ya, suatu perjalanan bersama mimpi - mimpi.
Bukankah seharusnya hari ini adalah harinya?
Suatu perjalanan yang sudah kita tunggu dan disiapkan oleh hati.
Lihatlah, langit sudah tak lagi menangis.
Matahari memang sudah tak tampak, senja sudah berkunjung.
Namun burung besi itu pasti masih menanti kita.
Dia tetap menunggu walaupun teman - temannya sudah terbang di atas sana.
Aku masih di sini.
Kamu juga masih di sana.
Burung besi menanti kita, bukan aku atau kamu saja.
Perjalanan ini tentang kita, bukan aku atau kamu saja.
Mimpi - mimpi yang ada adalah mimpi - mimpi kita.
Dan selamanya tetap menjadi mimpi.
Saturday, January 31, 2015
Canda
kamu pasti tidak bisa membaca surat ini.
Terang saja, aku memang menuliskan surat ini karena ragu untuk mengatakannya langsung kepadamu.
Aku juga sudah mencari namamu di mesin pencari, sebut saja google, tanpa menemukan jejakmu.
Surat ini berisi beberapa pertanyaan yang aku sendiri belum tahu jawabannya.
Aku masih ingat awal pertemuan kita, ketika kamu yang waktu itu sedikit berbeda dari kamu yang sekarang.
Aku tidak kenal kamu secara langsung, aku hanya kenal temanmu.
Waktu itu aku sedang berbicara dengan temanmu dan kamu sedang bersamanya.
Seperti biasa kami bercanda untuk menceriakan hari - hari dan tanpa sadar kamu mulai menceriakan hariku.
Tampaknya begitu mudah menemukan kamu, karena setiap kali aku bertemu temanmu kamu pasti ada bersamanya.
Kamu sekarang berbeda, kenapa?
Aku tahu ada beberapa minggu liburan, tapi kenapa?
Kenapa yang aku lihat hanya senyum yang seadanya.
Yang aku dengar hanya kata yang seperlunya.
Hari kamu pasti tetap ceria, itu aku yakin.
Hanya hariku menjadi berbeda.
Saat nanti kita bertemu lagi, boleh kembali kudengar candamu?
Friday, January 30, 2015
Kita, Pencinta
Waktu yang berjalan dengan cepat tapi terasa lambat atau sebaliknya?
Para pencinta sudah kembali.
Bersama mereka akan ada setumpuk aksara dan barisan kata yang saling melengkapi.
Selama 30 hari ini beberapa kata akan sering tampil dan beberapa akan melakukan debut perdananya di kegiatan ini.
Namun pemenangnya adalah kita.
Kita yang tetap sama di hari pertama, kedua sampai ketiga puluh.
Para senior pencinta mungkin ingat hari pertama mereka menulis surat cinta.
Sedangkan para pencinta debutan mungkin gugup mengguratkan kata - kata di layar elektronik, mencoba mencari kalimat yang sepadan atau cerita yang tak tergerus waktu.
Siapapun itu, pemenangnya tetap kita.
Yang telah membiarkan cinta berbicara lewat kata dan berucap lewat tulisan.
Semoga kembali terjadi kisah - kisah indah di 30 hari dan selamanya.
Saturday, March 01, 2014
Si Tersembunyi
Ini surat balasan untuk surat kaleng yang kamu kirimkan di hari Jumat yang lalu.
Sejujurnya aku terkejut karena tidak menyangka akan mendapat surat kaleng. Mungkin lebih cocok kalau aku yang menjadi pengirim.
Sudahlah, aku berterima kasih atas surat itu. Aku jadi tersadar ada orang - orang yang membaca surat - suratku.
Mohon maaf kalau tahun ini surat - surat cinta yang harusnya aku kirimkan setiap hari malah tidak pernah hadir.
Aku sempat mengirimkan surat cinta di hari pertama, namun tidak di hari kedua. Sempat lagi aku mengirimkan surat cinta dan dilanjutkan dengan surat - surat yang tidak ada.
Sekarang sudah hari ke-29, benar kan ? Dan kalau kamu masih menunggu surat cinta dari aku inilah surat untukmu.
Terima kasih atas perhatiannya dan kepeduliannya.
Aku masih ingin menulis.
Aku akan terus menulis.
Aku akan menulis untuk kamu dan kalian dan juga aku.
@egbertz
Wednesday, February 19, 2014
Setahun
kaget ya ?
Surat terakhir untuk kamu sudah hampir setahun yang lalu.
Apa kabar dirimu sekarang ?
Kalau aku boleh berasumsi sih, harusnya kamu sedang merasa bahagia. Bahagia sejak menemukannya.
Atau sejak dia menemukanmu. Tapi sama saja, kalian berdua pasti sedang bahagia.
Kalau begitu aku juga turut berbahagia. Hal yang tidak mudah dilakukan di awal tapi mampu berjalan dengan baik pada akhirnya.
Segala sapa yang pernah ada sekarang tiada. Hanya ada ragu dan segan di saat jumpa.
Tapi aku sudah berjalan lagi. Tidak, aku tidak terpuruk. Masa - masa seperti itu sudah lewat sejak lama.
Sekarang aku hanya terhenti sesaat, menoleh ke belakang. Menyadari bahwa ada hal - hal indah yang pantas menjadi kenangan.
Kemudian aku berbalik ke depan dan aku juga menyadari ada hal - hal indah yang harus diperjuangkan.
Kamu sudah berjuang dan mendapatkannya.
Sekarang giliran aku.
Terus berbahagia ya.
Aku
Thursday, February 13, 2014
Sabar
Apa kabarnya kau yang yang sangat setia bersamaku ? Terlalu setia sampai kita disebut bodoh oleh orang - orang yang tidak mengenal kita.
Masih ingat sewaktu kita tetap bekerja saat yang lain mengundurkan diri ? Saat orang - orang mengatakan cukup kepada kesewenang - wenangan, kita berdua tetap setia. Kita tidak pergi kemana - kemana. Kita menerima hari demi hari, tiap langkah yang terasa berat.
Selalu terpikir apakah ada sesuatu menanti di akhir ketika kita bersama. Banyak yang berkata akhir dari kebersamaan kita adalah kemarahan. "Orang sabar ada batasnya" begitulah kata - kata yang selama ini sering kita dengar.
Apakah tidak ada akhir yang baik ketika waktu dan kebersamaan kita telah selesai ?
Ada akhir yang bahagia ketika kita harus berpisah.
Jadi tidak perlulah kau bersedih kawan. Perpisahan membawa kita kepada permulaan cerita indah dengan tokoh - tokoh lain. Dan engkau, sabar, akan bertemu dengan orang lain yang akan setia bersamamu, bahkan saat disebut bodoh oleh orang - orang lain.
Siklus ini akan berulang dan kita akan selalu mengenang kebersamaan kita yang diakhiri dengan cerita indah.
Saturday, February 01, 2014
Day 1
Hai cinta, kita kembali bertemu. Apa kabarmu setahun terakhir ini ? Kalau tidak salah setelah acara 30 hari menulis surat cinta aku kehilangan jejakmu. Kau memudar dan perlahan menghilang. Dan aku tidak terlalu memperdulikan hal itu.
Beberapa bulan setelah itu aku merasakan kau kembali. Ah tapi memang kadang - kadang kau seperti itu. Muncul sesaat hanya untuk menghilang dengan cepat. Aku tidak tahu apakah aku masih dapat mempercayai dirimu.
Tetapi kali ini berbeda, kau muncul dengan perlahan. Tidak langsung hadir dengan utuh, melainkan dengan perlahan tapi pasti. Dengan begitu kau membuatku yakin bahwa mungkin inilah saatnya kau akan mewujud secara utuh. Aku masih ingat pertemuan demi pertemuan. Tidak, kau belum hadir di pertemuan pertama, bahkan belum juga di beberapa pertemuan selanjutnya. Namun aku masih ingat kau muncul di keadaan yang sebenarnya tidak kusangka - sangka. Aku hanya mengikuti saja dan berharap sedikit. Terlalu banyak berharap membuatku tidak memikirkan kemungkinan lain.
Dan sayangnya aku lupa sesuatu, kau yang muncul dengan perlahan itu apakah juga muncul di dirinya ? Itu satu pertanyaan yang belum sempat terpikirkan, tapi setiap perjalanan dalam hidup mengandung resiko bukan. Resiko dengan cinta adalah sesuatu yang pantas diambil dalam hidup.
Sebagai cinta kau pasti pernah mengalami hal ini berulang kali. Saat aku hanya berdiam diri dan ternyata kau tidak hadir dalam dirinya.
Entah kenapa aku mulai terbiasa melupakan dirimu dengan secepat mungkin. Kau hadir, lalu menghilang, hadir kembali dengan cepat kemudian menghilang lagi. Siklus yang selalu berulang dan aku membiasakan diri dengan siklus itu.
Jadi begitulah, kau mulai hadir kembali memulai siklus tersebut dengan seseorang yang baru.
Dan aku ?
Aku masih akan tetap mengikuti siklusmu dengan rasa yang sama. Segala resiko akan selalu kuterima.
Hey cinta, omong - omong bisakah kau beri tahu kapan kau akan hadir di hidupku dan hidupnya ?
Tuesday, February 12, 2013
Kalian
@dennyed , @ddlylaa , @franc3ssa , @dimasprakosooo
sebenarnya surat ini untuk semua penulis surat cinta yang ada di bawah bimbingan dan naungan kakak @lionychan tapi apa daya karena twitter terbatas untuk 160 karakter maka tidak semuanya bisa disebutkan.
Tapi percayalah saya ingin sekali bertemu dengan kalian semua.
30 hari yang lalu kita masing - masing berada di twitter tanpa saling mengenal satu dengan yang lain.
Hari pertama menulis surat cinta mungkin ada di antara kita yang masih belum menuliskan perasaannya pada selembar halaman di monitor komputer.
Hari kedua dan tangan kita sudah siap di atas keyboard untuk menuliskan hasil pemikiran.
Hari - hari berlalu, kita pun mulai menuliskan dan mata - mata kita mulai membaca masing - masing isi surat.
Setiap hari tukang pos kita yang sangat perkasa itu mengantar surat - surat yang dikirim dari berbagai macam penjuru kota sehingga akhirnya kita bisa menikmati surat - surat itu.
Tanpa terasa kita menulis dan terus menulis sampai akhirnya program #30harimenulissuratcinta ini berakhir.
Seperti biasa setelah program ini selesai masih ada yang akan terus menulis dan ada juga yang terhenti namun pada suatu waktu akan menulis lagi.
Terima kasih atas surat - surat kalian selama 30 hari.
Ada ratusan lebih surat - surat yang telah menghiasi timeline saya selama sebulan terakhir.
Semua cerita sendu, lucu, inspiratif, dan bahagia.
Bahkan setelah hari ini pun masih banyak surat - surat yang menunggu untuk dibaca.
Sampai bertemu nanti di Bandung.
Monday, February 11, 2013
Senin
hari ini hari terakhir yang memungkinkan aku menulis surat buat kamu.
Sebenarnya masih ada besok tapi sudah dipesan bosse @poscinta buat nulis surat ke orang yang ingin ditemui waktu nanti gathering #30harimenulissuratcinta.
Tapi aku tidak khawatir, masih ada hari - hari dimana aku masih bisa menulis surat untukmu, hanya berbeda keadaan saja.
Apa kabar dirimu hari ini ? Kamu tidak benci hari Senin 'kan ?
Banyak yang tidak suka dengan hari Senin, mereka bilang dari hari Minggu ke Senin harusnya tidak langsung berubah 180 derajat suasananya.
Hari Minggu itu hari istirahat, tiba - tiba hari Senin sudah penuh dengan segala kegiatan, pekerjaan, tugas dan masih banyak lagi.
Mereka bilang harusnya perpindahan dari hari Minggu itu bertahap. Jadi misal hari Senin masuk seperempat hari, hari Selasa masuk setengah hari, hari Rabu masuk tiga perempat hari, hari Kamis baru masuk satu hari penuh. Enak 'kan ?
Hari Jumat biarpun masuk satu hari penuh tapi besok Sabtunya sudah libur lagi.
Masih ada surat - surat lain untuk kamu, karena kamu masih di jalan hidupku.
Semoga kamu tidak bosan. Walaupun aku tidak yakin apakah kamu akan bosan ketika tidak ada suratku untukmu yang kamu baca.
Kalau suatu saat kamu memutuskan untuk pindah dari jalan hidupku bolehlah sekedar mampir untuk mengatakannya padaku.
Akan kuucapkan selamat tinggal dan semoga berbahagia.
Mungkin jalan hidup orang lain lebih membahagiakan dan tidak membuatmu cemas setiap waktu.
Aku juga akan melangkah maju dan mungkin ada lagi yang singgah di jalanku.
Jadi apakah kamu suka dengan hari Senin ?
Saturday, February 09, 2013
Berubah ?
sudah hari ke-27 dalam kegiatan menulis surat cinta. Tapi surat untuk kamu tidak banyak.
Bahkan aku yakin tidak ada surat aku yang sudah kamu baca.
Tidak apa - apa, suatu hari nanti mungkin kamu bisa mendengarnya langsung terucap dari aku sendiri.
Waktu 2013 dimulai aku tidak berharap banyak, bukannya aku berharap banyak sekarang ini, tapi aku sudah tahu akan seperti apa hari - hari berlalu.
Sampai hari itu tiba.
Seperti pertemuan - pertemuan sebelumnya hanya ada sedikit kata yang terucap saat kita berjumpa.
Senyum seadanya dan langkah secepatnya.
Hari itu juga sama, sama seperti pertemuan - pertemuan sebelumnya.
Namun pertemuan setelahnya berbeda.
Ada suara yang hampir sama saat pertama kali kita bertemu.
Suara yang membuatku bisa membuatku gugup saat harus berjalan dan berpapasan denganmu.
Yang setelah itu diikuti dengan senyum dan kita bertukar beberapa kata.
Mungkin aku terlalu banyak berharap.
Tidak ada yang berbeda sebenarnya dari pertemuan itu.
Mungkin kau menunjukkan bahwa sebenarnya tidak pernah ada jarak di antara kita.
Akulah yang merasa bahwa kau menjauhi aku.
Mungkin.
Sekarang kepada hati aku berkata, tolong jangan berharap lebih lagi.
Thursday, February 07, 2013
Benci tapi Cinta
Tapi memang cukup tepat menurutku untuk menggambarkan tentang angkot.
Ya betul, angkot.
Saya beruntung tinggal di Bandung.
Bisa dibilang bahwa salah satu kota yang transportasi publiknya cukup beragam.
Di sini ada becak, delman atau andong atau sado, ojek, angkot (angkutan kota), bus, mikro bus.
Dan memang, angkot adalah salah satu transportasi favorit saya, dulu.
Sejak beberapa tahun terakhir ini populasi angkot mulai dilewati oleh populasi sepeda motor.
Jadi angkot - angkot yang dulu merajai jalanan kota Bandung tiba- tiba mulai punah.
Sebenarnya tidak punah juga, tapi semakin berkurang.
Bayangkan di tengah ramainya orang - orang yang akan berangkat atau pulang kerja, sekolah dan berbagai macam aktifitas lainnya anda pasti bisa menemukan angkot yang isi penumpangnya hanya 2 atau 3 orang. Kadang - kadang malah sampai kosong sama sekali.
Kembali ke topik semula, surat benci tapi cinta ini ditujukan buat angkot.
Angkot yang sangat dicinta karena saya bisa duduk tenang di dalamnya, menambah jam tidur saya tanpa harus dipusingkan dengan keadaan lalu lintas yang sudah sangat semrawut.
Angkot yang kadang - kadang harus dibenci karena di saat saya sudah sangat - sangat terlambat kadang - kadang sang sopir tidak mamu memberangkatkan angkotnya.
Saat saya melihat sekeliling ternyata masih ada 1 kursi kosong yang belum terisi penumpang.
?
Hanya karena 1 kursi kosong dana kita harus menunggu ? Istilah di Bandung adalah ngetem.
Kembali lagi harus dibenci ketika sang supir ngetem dengan indahnya di tempat - tempat tertentu dan kembali juga saya melihat ke sekeliling dan tidak melihat calon penumpang.
Pak supir, tampaknya anda punya indera ke enam.
Dibenci lagi ketika kita mengharapkan angkot akan berjalan dengan mulus sang supir tiba - tiba menghentikan kendaraannya karena melihat ada calon penumpang yang sedang keluar dari sebuah gang, padahal belum tentu penumpang tersebut mau naik angkot jurusan tersebut.
Bahkan kadang - kadang ketika calon penumpang sudah memberikan tanda - tanda tidak akan naik,sang supir masih juga berhenti tepat di depan calon penumpang tersebut dan bertanya mau kemana.
Tapi masih tetap dicinta. Beberapa angkot beroperasi 24 jam.
Bayangkan, saat saya pulang jam 3 subuh, berdiri di pinggir jalan dan ada angkot yang berhenti untuk membawa saya pulang.
Buat angkot, semoga kamu cepat kembali seperti semula.
Bisa bawa penumpang banyak, dengan aman dan nyaman.
Orang - orang lebih memilih naik angkot dari pada menggunakan kendaraan pribadi.
Sehingga Bandung bisa menjadi kota yang lebih manusiawi lagi bagi warganya.
Wednesday, February 06, 2013
125
ini yang ke-125. Tentu saja surat bukan yang lain.
Hebat ya aku sudah mencapai surat ke-125.
Bisa kamu bayangkan kalau dijadikan satu mungkin sudah jadi 1 buku.
Kalau dijadikan cerita bersambung mungkin sudah seratusan edisi.
Kamu tenang saja, aku tidak lelah menulis surat ini.
125 bukanlah angka yang sangat besar yang dapat membuat aku menyerah.
125 adalah angka dan isi surat adalah perasaan.
Karena 125 dimulai dari angka 1, berlanjut ke angka 2 sampai sekarang mencapai angka 125 bagaimana kalau kita bernostalgia.
Angka 1 dimulai tidak tepat ketika kita bertemu.
Butuh berhari - hari sampai surat ke-1 dapat berwujud. Harus aku akui butuh keberanian luar biasa saat itu untuk menulis surat ke-1.
Aku ingat di surat ke-1 aku menyapamu seolah - olah aku sudah mengenalmu dengan akrab.
Hanya itu satu - satunya cara agar aku yakin kamu tidak menganggap surat itu hanyalah surat kaleng lain dari para penggemarmu.
Setelah surat ke-1 aku mulai yakin pada diri sendiri, sehingga aku putuskan untuk membuat surat ke-2.
Surat ini berjarak 1 minggu dari surat pertama, karena aku tidak mau kamu menerima surat kaleng setiap hari.
Namun aku sempat membuat kesalahan di surat ke-2, aku terlalu gugup.
Kalau aku ingat surat itu aku merasa malu dengan isinya.
Bagaimana dengan surat ke-28. Berarti sudah 28 minggu berlalu sejak surat pertama dan 28 minggu lebih sejak pertemuan pertama kita. Waktu itu kalau tidak salah aku menanyakan bagaimana perasaanmu setelah disuruh mengulang tugas matematika karena tugas yang sudah kau kerjakan hilang.
Atau surat ke-68 ketika kita bersama anak - anak pramuka kelas 1 berkemah dan aku bercerita betapa senang diriku dapat membantumu mengurus acara tersebut.
Kalau surat ke-101 ? Maaf aku sedang sedih. Waktu itu hp aku hilang, padahal di dalamnya ada pesan - pesan singkat kamu waktu kamu minta dijelaskan tentang kimia, juga pesan singkat kamu waktu mengajak berlibur bersama teman - teman sekelas. Aku senang mengoleksi kenangan seperti itu.
Banyak sekali suratku, ini yang ke-125.
Jika kamu tanyakan apakah akan ada surat ke-126 ? Saat ini aku akan menjawab iya.
Aku belum tahu akan menulis apakah di surat ke-126, tapi aku yakinkan kamu surat itu akan ada.
Sekian dulu suratku hari ini, aku tahu kamu pasti tidak akan bisa membaca surat ini.
Seperti surat ke-1 yang sudah aku sebutkan tadi, atau surat ke-2, surat ke-28, surat ke-68 dan surat - surat lainnya.
Seperti biasa setelah selesai menulis, akan kugenggam surat ini dan akan aku lipat, gunting dan kubuang ke tempat sampah.
Tempat sampah yang sama telah menerima guntingan 124 surat sebelumnya.
124 surat dan sekarang 125 surat yang tidak pernah sampai pada dirimu.
Jadi jika kamu bertanya lagi, sampai kapan surat ini akan terus ada ?
Sampai aku mampu berucap dan berkata.
Tuesday, February 05, 2013
Juliet
nama yang terkenal. Tapi tunggu dulu, bukan Juliet dalam Romeo & Juliet.
Ini Juliet dalam Love Actually.
Salah satu film bagus yang patut ditonton menurut saya.
Bagaimana rasanya dicintai ?
Pasti menyenangkan.
Dicintai dan mencintai orang yang sama adalah salah satu perasaan paling indah di dunia.
Tapi bagaimana rasanya dicintai oleh seseorang yang tidak mengharapkan apa - apa ?
Seseorang yang lebih mendahulukan persahabatannya dari pada perasaannya.
Seseorang yang pada akhirnya mengakui dengan jujur rasa cintanya dan terus melanjutkan hidup.
Saya ingin belajar bahwa cinta dapat diungkapkan dengan jujur tanpa harus merusak sebuah persahabatan.
Mengingatkan saya pada seorang wanita sempurna.
Mungkin berlebihan, tapi bagi saya dia sempurna.
Darinya saya diingatkan bahwa jujur terhadap perasaan sendiri tidak lebih menyakitkan dibandingkan dengan mengubur dalam - dalam perasaan itu.
Semoga cinta saya bisa menemukan Juliet, sang wanita sempurna.
Monday, February 04, 2013
Tak Bernama
bukan, bukan karena aku tidak tahu namamu. Justru akan tidak sopan jika aku menuliskan nama orang lain dan bukan namamu.
Ini bukan cerita yang panjang, jadi harap bersabar.
Kita sering bertemu, kamu mungkin sudah bisa menebak aku tinggal di mana.
Kadang - kadang aku juga penasaran di manakah tempat tinggalmu.
Waktu pertama kali aku melihatmu, aku berpikir kamu sama saja seperti orang - orang lain di pagi itu.
Kita semua disibukkan oleh pikiran kita, apa yang akan kita perbuat hari ini.
Orang - orang kantoran sudah mempersiapkan pikiran mereka untuk apa yang akan mereka lakukan hari ini di kantor. Begitu sampai di kantor, mengecek kembali data - data presentasi atau mencari bos untuk dimintai tanda tangan dan sebagainya.
Anak - anak sekolah menghabiskan waktu dengan membaca atau menghafalkan kembali bahan pelajaran karena mereka tahu guru yang mengajar nanti dengan mudah suka memberikan kuis tanpa perduli kepada otak - otak yang sudah lelah.
Dan kau salah satunya.
Dalam seminggu pertama kita hanya bertemu sekali, kita tidak menentukan waktu kapan kita akan pergi.
Begitupun dengan minggu - minggu berikutnya, kamu tidak menyadari tapi diam - diam aku mulai memperhatikanmu.
Kamu suka memilin rambutmu saat mengetahui lalu lintas tidak bersahabat dengan jam masuk.
Kamu selalu memeriksa telepon genggammu setiap 3 menit. Mungkin tidak tepat 3 menit sih, aku tidak menghitung dengan stopwatch.
Sampai akhirnya matamu beradu dengan mataku.
Apakah kamu melihat itu ?
Karena kata orang mata adalah jendela hati.
Kalau kamu sadar ini adalah bulan ke-9 setelah pertemuan pertama kita.
Kita lebih sering bertemu dibandingkan pertemuan yang hanya sekali dalam minggu pertama itu.
Sekali lagi aku bukan tidak sopan.
Aku masih ragu apakah surat ini akan kutulis jika namamu kutulis di awal surat.
Hari sudah malam dan 9 bulan sudah memberiku semangat berani mati.
Besok pagi di jam yang sudah kita tentukan, aku akan naik angkutan kota seperti biasa.
Jika memungkinkan aku akan duduk di tempat seperti biasa pula, menunggu dirimu hadir.
Selamat pagi, boleh kenalan ?
Siapa namamu ?
Sunday, February 03, 2013
Berharap
kamu lagi apa ?
Terlalu standar ya pertanyaanku.
Kalau aku sms atau mention kamu seperti itu pasti tidak akan kamu balas.
Tidak apa - apa, makanya aku lebih memilih menulis surat ini.
Aku sih berharap kamu lagi menikmati hari ini.
Mungkin kamu sedang bertemu dengan teman - temanmu, bermain - main setelah pulang dari gereja.
Semoga hari ini tetap cerah ya seperti hari - hari kemarin.
Kamu tahu 'kan betapa banyak acara - acara yang sudah sempurna direncanakan bisa batal gara - gara hujan.
Makanya jangan lupa bawa jas hujan, jadi kamu 'gak kebasahan.
Soalnya kata ramalan cuaca musim hujan belum berakhir.
Jadi jangan ketipu sama panasnya matahari, dia bisa juga emosi terus jadinya mendung, terus kalau langit ikut - ikutan sedih nanti turun hujan.
Oh ya, kamu pasti senang ya punya teman - teman yang banyak. Apalagi sekarang punya teman - teman baru juga.
Jadi tenang aja, kamu harusnya 'gak bakal bosan. Pasti kalau teman - teman kamu mau jalan - jalan mereka bakal ajak kamu ikutan.
Tapi itu semua menurut pendapatku.
Mungkin saja kamu juga merasa sendiri sama seperti aku.
Kalau begitu harusnya kita cocok, kamu ngerasa sendiri, aku juga ngerasa sendiri.
Kalau sama - sama kita jadi berdua, bersama.
Tapi sekali lagi itu semua pendapatku.
Dalam hatiku aku tahu kamu sudah memutuskan.
Apakah aku masih boleh berharap ?
Saturday, February 02, 2013
Terima Kasih
tidak, aku tidak akan menuliskan namamu atau mention akun twitter kamu juga.
Aku hanya ingin menuliskan surat ini.
Surat cinta kata orang - orang.
Surat terima kasih kata suara hatiku.
Sudah berapa tahun ya kita tidak bertemu ? Kita selalu saja berselisih waktu.
Kamu pergi di saat aku akan datang dan kamu belum datang di saat aku sudah pergi.
Tapi tidak masalah, aku akan senang sekali bisa bertemu denganmu lagi.
Kita bisa bercerita, tidak perlu tentang masa lalu.
Kita bercerita tentang saat ini dan kalau boleh sekilas tentang masa depan.
Jikalau ada perbincangan tentang masa lalu mari kita bicarakan dengan hati yang terbuka.
Bahwa kita pernah jadi manusia yang hidup.
Aku yang penuh cinta. Kamu yang penuh cerita.
Terima kasih kata suara hatiku.
Memang ada waktu yang menumbuhkan kata - kata itu.
Ada hati yang sudah siap untuk menerima.
Pada akhirnya kita akan bertemu kembali.
Kita, dikelilingi oleh teman - teman yang pernah bersama.
Mungkin di saat itu aku bisa berkata langsung.
Terima kasih
Thursday, January 31, 2013
Tawa
Kita belum ngobrol lagi, padahal sudah lewt seminggu.
Bahkan aku tidak akan menyebut pembicaraan kita kemarin sebagai sebuah obrolan.
Aku melihat kamu, kamu melihat aku, kita saling menyapa dan sudah.
Tidak ada obrolan - obrolan panjang seperti waktu itu.
Tidak ada tawa - tawa lepas dari dirimu seperti yang selalu kuingat.
Tapi seperti suratku yang kemarin, tawa - tawa itu mungkin masih ada, namun bukan untukku.
Suara - suara lucumu juga masih ada, namun aku tidak akan pernah mendengarnya lagi.
Aku masih berharap pada kejutan - kejutan indah, sa.
Di saat aku berpaling dan wajahmu hadir mengejutkan diriku.
Saat itu pula aku salah tingkah harus berkata apa, hanya bisa tersenyum dan bertanya apa yang sedang kau lakukan.
Namun hal itu sulit sekali kulakukan sekarang, pembicaraan - pembicaraan kita tidak mengarah kepada tawa - tawa ceria.
Hanya ada kesunyian.
Selalu hati - hati sa. Aku tahu kamu bisa jaga dirimu sendiri.
Aku hanya ingin kamu tetap ada saat kita bisa kembali tertawa
yang masih mengagumimu
Wednesday, January 30, 2013
Pergi
Rasa kehilangan itu menyakitkan. Karena kita yang terbiasa dengan kehadirannya sekarang tidak lagi bersamanya.
Ada hal - hal tertentu yang hilang dan tidak bisa diulang lagi.
Dan yang tinggal bersama kita hanyalah kenangan.
Sebelum kita merasa kehilangan sebgian dari kita tidak pernah tahu apakah yang akan terjadi.
Sebagian dari kita sudah merasa akan ditinggal pergi.
Beberapa diantaranya sudah merelakan dan yang lain tidak akan pernah siap ditinggalkan.
Entah kapan waktu bersamanya harus berakhir.
Rasa kehilangan diiringi oleh tetes air mata dan ketidakpercayaan.
Ditemani oleh hari - hari yang kelabu.
Pada akhirnya kenangan tetap tinggal bersama kita.
Ketika kita menelusurinya kembali, biarkan senyum, tawa dan air mata menghiasi wajah kita